Dari Bandung ke Vatikan



Suatu ketika, saya mengantar kekasih saya ke Landmark Bandung untuk mencari kerja. Sedari luar gedung, bangunan ini memiliki rasa neoklasik dengan pilar gaya Yunani. Di dalamnya, saya memperhatikan kaca-kaca yang melapisi dinding sampingnya: kaca berwarna seperti gereja-gereja Eropa. Ada juga relief di atas dinding yang menggambarkan rumah dan pakaian adat suku-suku di Indonesia. Dengan setting begini rupa, saya jadi membayangkan novel Angels and Demons-nya Dan Brown.

Mungkin dengan sentuhan yang Indonesia banget, Landmark adalah tempat yang cocok untuk syuting Angels and Demons. Bayangkan saja, ketika pembicara di atas panggung tengah berapi-api, sebuah mayat tergantung jatuh dari langit-langit, sebelumnya disembunyikan dari pandangan oleh lubang ventilasi yang tertutup.

Lalu, siapa saya di tengah kerumunan uang panik? Saya yakin, saya bukan siapa-siapa kecuali orang yang terbelalak melihat scene itu. Barangkali nanti akan ada seorang profesor seni dan simbol asli Indonesia, yang barangkali kita bisa beri nama Agus atau sejenisnya. Lalu profesor Agus (yang secara kebetulan ada di sana padahal tidak sedang mencari kerja) melihat darah yang menetes membentuk sebuah simbol persaudaraan rahasia.

Plot twist-nya: bukan hanya prof. Agus yang tahu simbol tersebut. Saya yang melihat simbol itu menyeruak dari kerumunan dan berseru "itu lambang persaudaraan Z!" dan singkat kata, saya bersama prof. Agus bertualang keliling gorong-gorong Bandung untuk menemukan pembunuh misterius dari organisasi misterius itu (kekasih saya tidak ikut karena dia tidak suka gorong-gorong ataupun petualangan).

Dalam cerita khayalan tadi, prof. Agus saya nisbatkan sebagai tokoh utama. Saya hanya seorang pencerita, seperti Watson dalam cerita Sherlock Holmes. Watson ada dan bercerita, namun keberadaannya sebagai narator tidak serta-merta menjadikannya tokoh utama. Tindakan dan keberadaan Holmes-lah yang menjadikannya tokoh utama. Dalam sebuah peristiwa, seringkali mereka yang berperan besar yang menjadi pusat cerita. Napoleon adalah protagonis dalam epiknya menguasai Perancis. Gajah Mada sang patih adalah protagonis dalam narasinya mempersatukan Indonesia. Tokoh-tokoh fiksi seperti Robert Langdon, Katniss Everdeen, dan Hannibal merupakan protagonis dalam ceritanya masing-masing. Saya? Saya adalah Watson dalam kancah prof. Agus Holmes.

Di sisi lain, cerita Sherlock Holmes tidak akan pernah terjadi tanpa catatan fiktif Watson. Tentu, Sir Arthur Conan Doyle bisa menulis cerita Holmes dengan perspektif Holmes sebagai orang pertama ataupun dengan perspektif orang ketiga, tanpa ada keterlibatan Watson. Barangkali nanti rasa yang timbul akan berbeda.


Jadi, saya mungkin bukan Holmes dalam cerita khayalan saya, namun siapa tau saya adalah Holmes dalam cerita seorang Watson lainnya.

Komentar