Topeng Romantisme Jalan Braga




Jika menyebut Bandung, ingatan kita mungkin akan berkendara ke Jalan Braga, sebuah jalan historis yang terletak di antara Jalan Asia-Afrika dan Balaikota Bandung. Pertama kalinya saya mendatangi jalan ini adalah ketika saya masih SMP, untuk menonton di bioskop mal Braga City Walk.

Braga City Walk kala itu masih menjadi salah satu mal favorit anak muda untuk nonton bioskop karena harganya yang murah. Lucunya, meskipun Braga memiliki bioskop sebagai tempat nonton, kehidupan di luar bioskop itu lebih menarik untuk ditonton dan diperbincangkan.

Tidak banyak yang tahu kalau nama asli Jalan Braga adalah Karreweg. Penduduk lokal memiliki nama sendiri untuknya: Pedatiweg, karena lebar jalannya hanya cukup untuk dilewati pedati. Nama Braga sendiri diambil dari nama Toneel Braga, sebuah grup teater yang dahulu kondang di sebelah selatan jalan Braga.

Seperti asal namanya, Braga pandai bersandiwara. Disuguhkannya kepada kita gambaran keindahan Paris di tanah Jawa. Sebagian kafe dan restoran memiliki nama yang sulit diucapkan lidah orang Indonesia, sementara sebagian lainnya berjualan eksotisme bumi pertiwi dan kenangan masa lampau. Tidak lupa berbagai tempat hiburan malam yang memeluk Jalan Braga dalam gelap seperti seorang kekasih terlarang.

Memasuki Jalan Braga, terutama di malam hari, seperti memasuki gerbang yang menembus ruang dan waktu. Saya, yang belum pernah ke Paris, dapat membayangkan rasanya jalan-jalan di Paris hanya dengan berjalan-jalan di sekeliling Braga. Bukan hanya Paris, Jalan Braga adalah representasi pikiran kita terhadap suasana Eropa. Braga adalah romantisme Eropa, terutama bagi yang ingin, namun tak mampu, ke Eropa.

Jika Braga adalah kelompok teater, maka pelaku teaternya adalah elemen-elemen manusia dan nonmanusia yang bercecer dan berinteraksi di sepanjang jalan itu. Pelayan restoran, barista, dan bartender menjadi pemeran utama dalam lakon malam tiada akhir. Jalan berlapis ubin dan tiang lampu serupa lentera menjadi properti penanda ruang dan waktu yang berlawanan sekaligus berhubungan dengan Bandung di berbagai masa. Cahaya dari papan reklame, papan nama, dan lampu neon sepanjang jalan merupakan pencahayaan yang optimal untuk menerangi para pelakonnya.

Keunikan Jalan Braga adalah aktor-aktor lokal yang kelihatannya ‘salah kostum’ dalam lakon kehidupan Jalan Braga. Di tengah arus pejalan kaki yang gaya, necis, dan wangi, aktor-aktor ini melawan norma pergaulan malam Bandung. Namun jangan salah, eksistensi mereka adalah potongan tak terpisahkan dari Braga.

Di sebuah bagian trotoar Jalan Braga, seorang tukang ketan bakar menjajakan jualannya. Ketan, arang, daun pisang, serta tanggungan yang dipanggulnya itu menjadi kontras dengan ke-Eropa-an jalan ini. Ia terhimpit kafe bernuansa Eropa, toko roti eksotis, dan modernitas yang disuguhkan oleh Indomaret di dekat sana.

Tukang ketan bakar itu berbagi lokasi dengan seorang tukang cuanki yang memanaskan panci berisi kehangatan Indomie, tahu, siomay, dan bakso seharga lima belas ribu. Kedua aktor ini pun menjadi semakin janggal ketika konteks lokal-nomaden mereka dihadapkan dengan bangunan berlampu terang dan gaya art deco yang menjadi norma bangunan Jalan Braga.

Aktor-aktor lokal yang masih ‘optimistis’ itu diimbangi dengan potret ke-Indonesia-an yang bisa benar-benar membuyarkan fantasi anda tentang Eropa. Di sepotongan trotoar, dua orang gelandangan, barangkali ibu dan anaknya, meminta-minta recehan menggunakan gelas plastik bekas restoran siap saji. Seorang gelandangan lainnya, seorang kakek yang bungkuk dan lusuh, berjalan melawan arus kendaraan dan mengasongkan sebuah wadah untuk diisi para pejalan kaki.

Melawan wewangian restoran, kafe, dan para pejalan kaki yang berparfum, seorang bapak membawa karung berisi sampah yang dipulungnya. Seorang nenek menjajakan tisu kepada para pejalan kaki, yang mau tidak mau harus mengangkat tangan atau memalingkan wajah. Seorang pemuda yang wajahnya masih cukup segar berjualan berbagai lap dan celemek. Sebagian digantung di pundaknya dan sebagian lainnya ia dekap dengan kedua tangannya.

Seperti ratusan pejalan kaki lainnya, pengunjung Jalan Braga tidak datang untuk membeli lap atau tisu, mengendus sampah, bersedekah, maupun makan cuanki atau ketan bakar. Tidak ada yang membayar aktor-aktor lokal itu untuk menjalankan peran mereka. Jangankan membayar, berinteraksi pun mereka sangsi.

Yang saya maksud dengan ke-Indonesia-an bukanlah kehadiran aktor-aktor lokal tersebut. Saya menyadari ke-Indonesia-an Jalan Braga karena minimnya interaksi antara pejalan kaki dan aktor-aktor tersebut, yang eksistensinya seharusnya lebih hidup daripada lampu terang dan meja mewah yang menjadi topeng Jalan Braga.

Kita memilih untuk berfokus pada potret-potret kemegahan Jalan Braga sembari mengabaikan orang-orang yang benar-benar hidup di dalamnya. Kita memilih untuk mengalienasi diri terhadap keadaan warga Braga di gang-gang, di sela-sela bar dan kafe. Kita terasing dari kehidupan pemilik warung, tukang kacang, tukang payung, dan tukang bakso tahu yang sehari-hari menjajakan dagangannya di sana.

Seperti saat menonton sebuah lakon, kita acap lupa dengan kegiatan yang terjadi di belakang panggung. Kita seringkali tak paham bahwa Braga bukan hanya tempat glamor yang berlinang musik dan cahaya. Kita lupa bahwa hakikat Jalan Braga, sebagaimana semua ruang hidup dari sebuah kota, adalah untuk masyarakatnya, tanpa memandang tingkat ekonomi dan status sosial.

Muhammad Rangga Padika
11 Januari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Bandung ke Vatikan